Sastra


 Oleh: D'Lover Of Paradise
 
SANTRI JUGA BISA GOKIL

Judul                                                  :Geng Kopi Tubruk  
Penulis                                               :Ruslan Ghofur 
Penerbit                                             :Lkis
Tahun terbit                                       :2006 
Jumlah Halaman                               :212
Jenis Cover                                       :Soft Cover  Dimensi(L x P)
                                                            110x170mm
Kategori                                            :Drama             

Novel pendek yang menjadi salah satu produk matapena ini menceritakan realita santri dengan berbagai macam kejailannya, Ruslan Ghofur mencoba membuat pembaca terhibur dengan menghidangkan novel dengan menuangkan beragam bahasa daerah didalamnya.Geng Kopi Tubruk mengingatkan kita kepada novel karya Otto Sukanto CR. “Santri Nekat” yang juga menceritakan tentang kekonyolan seorang santri di pesantren Bambu Ireng yang berkedok seorang pencuri yang pada akhirnya jatuh cinta kepada putri Kiai Hasan.
Doni, Encep, dan Dul adalah tiga sekawan santri Bait Al-Muslimin  yang selalu mewarnai susana di pesantren. Mereka menjadi teman akrab sejak kedatangan mereka di” Ba-Moes”(nama pesantren Baitul Muslimin yang oleh ide Dul menjadi jauh lebih populer). Doni yang asli Jakarta, Encep yang berdarah Sunda, dan Dul yang keluaran Tegal; perbedaan ini malah membuat kehidupan mereka di salah satu kamar asrama F jadi meriah dan asyik. Apalagi kalau mereka sudah kompak nongkrong di warung Kang Somad, menghadap segelas kopi tubruk hitam pekat!
.Hasilnya, adaaa... saja ide iseng nakal mereka, dari bolos setoran hafalan, rebutan naksir Adinda,kirim surat cinta malah nyasar ke polisi pondok, berlagak sok pahlawan tak tahunya malah dicap pecundang, ketahuan nonton layar tancap sama Pak Kiai, kesandung masalah sama preman kampung...Benar-benar tak ada habisnya.
Hehehe, ternyata bakat kreatif khas anak-anak puber tetap tersalurkan juga ya di pesantren yang kental dengan hawa islami. Bakat kreatif yang unik dan lucu, dan bikin Kiai Ridlwan geleng-geleng kepala.
Dalam Novelnya kali ini Ruslan Ghofur  menciptakan bahasa yang sangat menggugah hati, padat, dan juga memberikan kosakata untuk bahasa – bahasa daerah yang kental dan sulit dipahami sehingga pembaca dapat mudah memahaminya dan bisa menikmati Novel tersebut dengan nyaman. Para tokoh yang disajikan dalam novel ini dikarakteri sifat jail, cerdik, dan selalu buat onar sehingga pembaca bisa terhibur dan bisa ikut tenggelam merasakan suasana pesantren “Ba-Moes”  yang penuh warna. Dalam novel karya Ruslan Ghofur kali ini membuat para pembaca berantusias untuk lebih mengubah dirinya menjadi lebih baik, dan memiliki banyak kelebihan dari novel karya Ruslan Ghofur yang sebelumnya dan juga menggugah hati para pembaca.
Novel ini sangat cocok untuk kalangan santri karena bisa membuat para santri bisa mengintrospeksi diri dan banyak mengandung pelajaran yang sangat berarti dalam kehidupan hingga tidak menimbulkan kebosanan bagi para pembaca.



Rasanya Baru Kemarin (Versi X)
Oleh: Gus Mus

Rasanya
Baru kemarin Bung Karno dan Bung Hatta
Atas nama kita menyiarkan dengan seksama
Kemerdekaan kita di hadapan dunia. Rasanya
Gaung pekik merdeka kita
Masih memantul-mantul tidak hanya
Dari para jurkam PDI saja. Rasanya
Baru kemarin.
Padahal sudah enam puluh tahun lamanya.


Pelaku-pelaku sejarah yang nista dan mulia
Sudah banyak yang tiada. Penerus-penerusnya
Sudah banyak yang berkuasa atau berusaha
Tokoh-tokoh pujaan maupun cercaan bangsa
Sudah banyak yang turun tahta
Taruna-taruna sudah banyak yang jadi
Petinggi negeri
Mahasiswa-mahasiswa yang dulu suka berdemonstrasi
Sudah banyak yang jadi menteri dan didemonstrasi.

Rasanya
Baru kemarin
Padahal sudah lebih setengah abad lamanya.

Petinggi-petinggi yang dulu suka korupsi
Sudah banyak yang meneriakkan reformasi.
Tanpa merasa risi

Rasanya baru kemarin
Rakyat yang selama ini terdaulat
sudah semakin pintar mendaulat
Pejabat yang tak kunjung merakyat
pun terus dihujat dan dilaknat

Rasanya baru kemarin
Padahal sudah enam puluh tahun lamanya

Pembangunan jiwa masih tak kunjung tersentuh
Padahal pembangunan badan
yang kemarin dibangga-banggakan
sudah mulai runtuh

Kemajuan semu masih terus menyeret dan mengurai
pelukan kasih banyak ibu-bapa
dari anak-anak kandung mereka
Krisis sebagaimana kemakmuran duniawi
Masih terus menutup mata
banyak saudara terhadap saudaranya

Daging yang selama ini terus dimanjakan
kini sudah mulai kalap mengerikan
Ruh dan jiwa
sudah semakin tak ada harganya

Masyarakat yang kemarin diam-diam menyaksikan
para penguasa berlaku sewenang-wenang
kini sudah pandai menirukan

Tanda-tanda gambar sudah semakin banyak jumlahnya
Semakin bertambah besar pengaruhnya
Mengalahkan bendera merah putih dan lambang garuda
Kepentingan sendiri dan golongan
sudah semakin melecehkan kebersamaan

Rasanya
Baru kemarin
Padahal sudah lebih setengah abad kita merdeka.

Pahlawan-pahlawan idola bangsa
Seperti Pangeran Diponegoro
Imam Bonjol, dan Sisingamangraja
Sudah dikalahkan oleh Sin Chan, Baja Hitam
dan Kura-kura Ninja

Banyak orang pandai sudah semakin linglung
Banyak orang bodoh sudah semakin bingung
Banyak orang kaya sudah semakin kekurangan
Banyak orang miskin sudah semakin kecurangan

Rasanya
Baru kemarin

Tokoh-tokoh angkatan empatlima
sudah banyak yang koma
Tokoh-tokoh angkatan enamenam sudah
banyak yang terbenam
Tokoh-tokoh angkatan selanjutnya
sudah banyak yang tak jelas maunya

Rasanya
Baru kemarin

(Hari ini ingin rasanya
Aku bertanya kepada mereka semua
Sudahkah kalian
Benar-benar merdeka?)

Rasanya
Baru kemarin

Negeri zamrud katulistiwaku yang manis
Sudah terbakar nyaris habis

Dilalap krisis dan anarkis

Mereka yang kemarin menikmati pembangunan
Sudah banyak yang bersembunyi meninggalkan beban
Mereka yang kemarin mencuri kekayaan negeri
Sudah meninggalkan utang
dan lari mencari selamat sendiri

Mereka yang kemarin
sudah terbiasa mendapat kemudahan
Banyak yang tak rela sendiri kesulitan
Mereka yang kemarin mengecam pelecehan hukum
Kini sudah banyak yang pintar melecehkan hukum

Rasanya baru kemarin
Padahal sudah lebih setengah abad kita merdeka

Mahasiswa-mahasiswa yang penjaga nurani
Sudah dikaburkan oleh massa demo yang tak murni
Para oportunis pun mulai bertampilan
Berebut menjadi pahlawan
Pensiunan-pensiunan politisi
Sudah bangkit kembali
Partai-partai politik sudah bermunculan
Dalam reinkarnasi

Rasanya
Baru kemarin

Para seniman sudah banyak yang senang berpolitik
Para agamawan sudah banyak yang pandai main intrik
Para wartawan sudah banyak yang pintar bikin trik-trik

Rasanya
Baru kemarin

Tokoh-tokoh orde lama
sudah banyak yang mulai menjelma
Tokoh-tokoh orde baru
sudah banyak yang mulai menyaru

Rasanya
Baru kemarin

Pak Harto yang kemarin kita tuhankan
Sudah menjadi pesakitan yang sakit-sakitan
Bayang-bayangnya sudah berani pergi sendiri
Atau lenyap seperti disembunyikan bumi
Tapi ajaran liciknya sudah mulai dipraktekkan
Oleh tokoh-tokoh yang merasa tertekan

Rasanya baru kemarin

Habibie dan Gus Dur sudah mencoba sebentar
Menduduki kursi kekuasaan yang terlantar
Megawati yang mendapat giliran dan sudah berusaha
Sekuat tenaga gagal memperpanjang kuasa

SBY yang menggantikan kekuasaan
Terus dicoba cobaan demi cobaan
Jusuf Kalla sudah menggantikan Hamzah Haz di istana
Sambil menggantikan Akbar Tanjung di Golongan Karya

Saifullah Yusuf dan Alwi Syihab sudah menjadi menteri
Meski berbuntut pertikaian dalam partai sendiri
Tokoh-tokoh KPU yang dituding sering memperlihatkan arogansi
Malah banyak yang menjadi terdakwa kasus korupsi

Mantan-mantan calon dalam pilpres dan pilkada
Banyak yang masih tak bisa menerima kenyataan yang ada
Banyak yang demam pesta demokrasi
Ternyata belum bisa menghayati demokrasi

Rasanya baru kemarin

Partai-partai politik sudah menjadi rebutan
Para pemimpinnya sendiri yang melihat kesempatan
Tanpa peduli warga mereka yang rentan
Ormas-ormas pun banyak yang seperti tak tahan
Melihat iming-iming kekuasaan

Rasanya baru kemarin

Wakil-wakil rakyat yang kemarin hanya tidur
Kini sudah pandai mengatur dan semakin makmur
Bahkan rakyat tak perlu lagi berkelahi dan memperkaya diri
Karena wakil-wakil mereka sudah mewakili dengan baik sekali

Insan-insan pers yang kemarin seperti burung onta
Kini sudah pandai menembakkan kata-kata

(Hari ini ingin rasanya
Aku bertanya kepada mereka semua
Bagaimana rasanya
Merdeka?)

Rasanya
Baru kemarin
Padahal sudah enam puluh tahun kita
Merdeka.

Para jenderal dan pejabat sudah saling mengadili
Para reformis dan masyarakat sudah nyaris tak terkendali
Mereka yang kemarin dijarah
Sudah mulai pandai meniru menjarah
Mereka yang perlu direformasi
Sudah mulai fasih meneriakkan reformasi
Mereka yang kemarin dipaksa-paksa
Sudah mulai berani mencoba memaksa

Mereka yang selama ini tiarap ketakutan
Sudah banyak yang muncul ke permukaan
Mereka yang kemarin dipojokkan
Sudah mulai belajar memojokkan
Mereka yang kemarin terbelenggu
Sudah mulai lepas kendali melampiaskan nafsu
Mereka yang kemarin giat mengingatkan yang lupa
Sudah mulai banyak yang lupa

Rasanya baru kemarin
Ingin rasanya aku bertanya kepada mereka semua
Tentang makna merdeka

Rasanya baru kemarin

Pakar-pakar dan petualang-petualang negeri
Sudah banyak yang sibuk mengatur nasib bangsa
Seolah-olah Indonesia milik mereka sendiri
Hanya dengan meludahkan kata-kata

Rasanya baru kemarin

Dakwah mengajak kebaikan
Sudah digantikan jihad menumpas kiri-kanan
Dialog dan diskusi
Sudah digantikan peluru dan amunisi

Rasanya baru kemarin

MUI yang didirikan untuk mendukung rezim lama
Kini sudah mencoba menjelma orsospol ulama
Pendukung-pendukung Islam
Sudah semakin berani mencemari Islam

Masyarakat Indonesia yang berketuhanan
Sudah banyak yang kesetanan
Bendera merahputih yang selama ini dibanggakan
Sudah mulai dicabik-cabik oleh dendam dan kedengkian

Aceh semakin merana
Ambon dan Papuatrus terlena
Bangsaku yang sejak dulu dipuja-puja
Kini selalu dihina-hina

Rasanya baru kemarin

Orangtuaku sudah lama pergi bertapa
Anak-anakku sudah pergi berkelana
Kakakku dan beberapa kawanku sudah berhenti menjadi politikus
Aku sendiri masih tetap menjadi tikus

(Hari ini
setelah enam puluh tahun kita merdeka
ingin rasanya aku mengajak kembali
mereka semua yang kucinta
untuk mensyukuri lebih dalam lagi
rahmat kemerdekaan ini
dengan mereformasi dan meretas belenggu tirani
diri sendiri
bagi merahmati sesama)

Rasanya baru kemarin
Ternyata sudah enam puluh tahun kita
Merdeka

(Ingin rasanya
aku sekali menguak angkasa
dengan pekik yang lebih perkasa:
Merdeka!)

  1. Rembang, 17 Agustus 2005

PERSEMBAHAN PUISI DARI SANG PENCINTA

DI ATAS LAUTAN KETERMENUNGAN

Sepi senyap namun ramai terlihat

Rasanya daku ingin berteriak

Tepiskan segala duka nestapa

Namun, apa daya?

Ku terpaku dalam menatap kemaksiatan



Sepi senyap namun ramai terlihat

Cikal-cikal bangsa terbius bisa

Saat gemuruh terbang berdendang

Saat kemenangan datang



Sepi senyap namun ramai terlihat

Apakah ini kemenangan nasrani

Rumah tuhan kami terasa sunyi.

Sedangkan mereka berpesta pora, berfoya-foya

Diantara datangnya kelahiran Al-Musthafa



Sepi senyap namun ramai terlihat

Dengan benang-benang keresahan

Terpintal indah dalam satu gumpalan

Di atas lautan ketermenungan

Maulid Nabi diiringi gending-gending Nasrani terlantun



By: the Lover of Paradise

Tertutup Kabut




Terngiang symphony indah beralun-alun iringi setiap detak jantungku
Sayup-sayup sang bayu pun setia menemani kesendirianku
Ada apa sebenarnya ini??

Aku takut tuk melangkah
Namun, ketika perlahan kucoba tuk buka ke-2 mata ini
Menelusuri ke dalam dsar lubuk hati ini
Lalu……
Kudapati gadis berpakaian serba putih disana,…

Namun,… apa???
Mengapa jalannya begitu gelap??
Kabut – kabut hitam pun menutupi sang dia
Ada apa sebenarnya ini??
Hatiku tersayat sedikit demi sedikit..
Tak mungkin terus kubiarkan semua ini..

Namun,..apa???
Mengapa dia begitu jauh kurasa??
Detak jantungku bergejolak kuat…
Terasa layaknya melodi-melodi cinta menggema
Apa sebenarnya ini???

Puisi tercipta tuk sang DIA...MY PARADISE

By : The Lover Of Paradise...


0 komentar:

Posting Komentar